• Selamat Datang di Website Resmi Universitas Warmadewa - Bermutu, Berintegritas dan Berwawasan Lingkungan Kepariwisataan - Jalan Terompong 24 Tanjung Bungkak, Denpasar, Bali, Indonesia - Email : info@warmadewa.ac.id - Telp. 0361-223858 - Fax. 0361-235073

Jumpa Ngopi Warmadewa Research Center (WaRC)

  • 14 Mei 2018
  • 68 Pengunjung
Jumpa Ngopi Warmadewa Research Center (WaRC)

Jumat Pagi Ngobrol Penelitian, Jumpa Ngopi,  yang digagas Warmadewa Research Center (WaRC) yang baru didirikan adalah wadah untuk mendiskusikan berbagai persoalan yang dihadapi Bali kedepan dengan berbagai riset yang dilakukan para akademisi. Jumpa Ngopi untuk pertama kalinya digelar, Jumat (11/5), Ketua WaRC, I Nyoman Gede Maha Putra, ST, M.Sc.,Ph.D  mengawali dengan memaparkan tentang keberadaan WaRC dan perannya ke depan termasuk untuk mensosialisasikan hasil penelitian para dosen. Ditambahkan persoalan yang sangat krusial saat ini adalah persoalan yang mungkin timbul akibat globalisasi, termasuk global tourism, yang mungkin memberi pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat lokal. Salah satu persoalan krusial ada di bidang pertanian terkait terus menyusutnya lahan pertanian di Bali seiring kemajuan pariwisata. "Kami ingin menggali terkait apa yang sebaiknya dilakukan masyarakat Bali setelah pariwisata. Karena pengalaman saat gunung agung erupsi, sektor pariwisata mati," tukasnya. Untuk itu sektor pertanian lah yang harus terus dikembangkan, salah satunya dengan mengembangkan pertanian organik. Bulan ini, topik pertanian dan lahan menjadi fokus diskusi.

Sementara itu Ir. Putri Risa Andriani, MSi dosen Fakultas Pertanian Universitas Warmadewa (Unwar) memaparkan materi terkait Produksi Beras Organik. "Awalnya saat saya membeli beras di supermarket, kebingungan mau memilih yang mana. Ada banyak pilihan merk dan jenis, ada beras putih, merah dan hitam, organik dan anorganik dengan harga yang sangat beragam juga," tuturnya. Banyak beras yang menggunakan kata organik, harganya jauh lebih mahal dan juga yang menggunakan bahasa Inggris juga sangat mempengaruhi harga jual menjadi lebih mahal jadi standar untuk menentukan harga belum jelas. Selama ini petani sangat tergantung pada pupuk urea, padahal sekarang sulit didapat karena  disubsidi oleh pemerintah. "Kenapa pertanian organik dikatakan meningkatkan kesejahteraan petani, karena kami mau petani menggunakan bahan - bahan yang disediakan oleh alam dan tidak harus membeli. Kalau selama ini banyak yang menyuruh mengembangkan pertanian organik tapi buntut - buntutnya menyuruh membeli produk pupuk organik, ini bentuk penjajahan baru," tukasnya. Jadi petani jangan sampai membeli tapi manfaat bahan yang tersedia di alam.

Dengan Produksi padi secara organik bisa mengurangi emisi gas rumah kaca, dengan demikian dapat beri sumbangan pada pengurangan emisi gas rumah kaca. Tujuan penelitian yang dilakukan adalah menghasilkan beras organik yang sehat, melepaskan ketergantungan petani kepada pupuk dan pestisida kimia, meningkatkan taraf hidup petani, memberikan sumbangan kepada perbaikan lingkungan dan emisi rumah kaca, menghasilkan standar untuk "sustainable organik rice production" , diharapkan nanti akan ada logo khusus kalau padi yang dihasilkan memenuhi standar. Untuk itu pihaknya telah melakukan penelitian untuk identifikasi sifat fisik , sifat kimia, peningkatan produktivitas dengan penerapan pola pertanian system  of resources intensification, melacak jejak karbon pada pertanaman padi di provinsi Bali, mencari standar untuk sustainable organic rice production yang digunakan dalam sertifikasi "safe rice". Selama ini belum ada penelitian beras yang seperti apa yang sehat dan bisa sustainable. "Setelah penelitian ini saya akan membuat standar untuk sustainable rice organic production. Harus ada standar keselamatan, jadi kemasan tidak sembarangan tapi ada standar tertentu sehingga dapat ditentukan beras yang layak mendapatkan harga mahal," ungkapnya.

Petani dari pulagan, Sang Nyoman Lingga, pemerintah harus membuat regulasi bila petani sudah menanam produk pertanian organik harus wajibkan hotel untuk membeli produk petani lokal.  "Kalau kami sudah produksi, bagaimana pemasarannya? Siapa menjamin harga jual lebih tinggi, ini yang menjadi persoalan bagi petani," ungkapnya. Pada diskusi tersebut hadir Prof. Hai Dai Nguyen, co founder WOW Bali dari Vietnam mengatakan lahan pertanian saat ini sudah beracun dan tidak organik lagi. "Makanya masyarakat Bali banyak menjual lahannya untuk menghasilkan uang, karena tidak bisa memproduksi padi lagi. Lalu bagaimana bila leluhur kita bereinkarnasi, kemana mereka akan pergi kalau semua lahan dijual," tukasnya. Karenanya ia berharap masyarakat Bali tidak menjual lahan lagi.

Dikatakan ia merasa senang ada di WaRC dan karena bisa melihat dan menyaksikan langsung bagaimana ide - ide kreatif hasil penelitian itu dibahas. "Diskusi ini menarik karen satu topik bisa dikaji dari berbagai aspek, sehingga bisa menjadikan penelitian multi dan inter disipliner," tukang. Ia berharap para peneliti kedepannya bisa lebih kreatif dan melakukan penelitian dengan sepenuh hati untuk kemajuan, bukan karena sebuah kewajiban yang harus dilakukan. Penelitian juga harus memiliki jiwa 'leadership' dan kreatif.  Pada diskusi tersebut juga hadir sejumlah akademisi lainnya yang turut urun rembug untuk kemajuan pertanian Bali dan go organik.

  • 14 Mei 2018
  • 68 Pengunjung

Lainnya

Pencarian