• Selamat Datang di Website Resmi Universitas Warmadewa - Bermutu, Berintegritas dan Berwawasan Lingkungan Kepariwisataan - Jalan Terompong 24 Tanjung Bungkak, Denpasar, Bali, Indonesia - Email : info@warmadewa.ac.id - Telp. 0361-223858 - Fax. 0361-235073

Apel Upacara Bendera untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional Tahun 2018

  • 02 Mei 2018
  • 321 Pengunjung
 Apel Upacara Bendera untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional Tahun 2018

Universitas Warmadewa melaksanakan Apel Upacara Bendera untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional Tahun 2018 pada tanggal 2 Mei 2018 di Areal Kampus Unwar. Apel Upacara Bendera dipimpin oleh Rektor Unwar dan diikuti oleh Pimpinan dan Staf Yayasan Kesejahteraan Korpri Propinsi Bali, Pimpinan Universitas Warmadewa, Pimpinan Fakultas dan Pascasarjana Unwar, dan Seluruh Civitas Akademika Unwar. Dalam sambutannya yang dibacakan oleh Rektor Universitas Warmadewa, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir menyampaikan bahwa hari ini tanggal 2 Mei merupakan hari yang sangat penting, penuh dengan makna, inspirasi, dan memiliki motivasi dalam memajukan peradaban nasional melalui pengembangan sumber daya manusia.

Dalam pengembangan sumber daya manusia, pendidikan tinggi memilki peranan penting dengan tidak melupakan pendidikan formal dan informal yakni sebagai terminal akhir dalam jenjang pendidikan formal dalam meningkatkan kuallitas sumber daya manusia. Keharusan perguruan tinggi untuk melakukan riset serta inovasi semakin penting dalam situasi sosial yang penuh disrupsi di era sekarang ini. Dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution, Klaus Schwab menerangkan tentang arus revolusi yang menggabungkan teknologi fisik, digital dan biologis yang berdampak pada semua disiplin ilmu. Internet of things, genetic editing, artificial intelligent, big data mining, mobil swakendara, super komputer, adalah bentuk-bentuk teknologi yang merevolusi cara kita menjalani kehidupan.

Dalam revolusi ini di satu sisi mengubah ciri dan cara lama dalam aspek kehidupan, diantaranya dalam bidang pekerjaan dan profesi yang dimasuki oleh lulusan perguruan tinggi. Disisi lain revolusi ini menjadi tantangan yang harus dijawab oleh pendidikan tinggi Dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0, Kemenristekdikti sudah menggagas beberapa kebijakan untuk menjawab kebutuhan di era tersebut. Salah satu program yang akan segera diimplementasikan adalah Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) dengan mengeluarkan Permenristekdikti yang terkait dengan program ini. Adapun salah satu implementasi dari kebijakan ini adalah pembangunan Cyber University dengan pembelajaran daring. Sehingga pendidikan tinggi kedepan akan menawarkan berbagai macam model pembelajaran antìara lain face to face, online learning, hingga blended learning.

Kedepannya PJJ diharapkan mampu meningkatkan akses masyarakat dalam menempuh jenjang pendidikan tinggi berkualitas secara signifikan. Saat ini angka partisipasi kasar atau APK pendidikan tinggi baru 31,5%. Kenyataannya, jika pembelajaran hanya diterapkan secara konvensional, peningkatan APK hanya berkisar di 0,5% per tahun. Namun dengan terobosan PJJ ini, diharapkan APK pendidikan tinggi mampu melesat mencapai 40% di tahun 2022-2023, asalkan PJJ dapat diakses oleh lebih banyak orang dan secara efektif diterapkan. Di sisi lain, hal yang tak kalah penting dalam menghadapi era yang penuh dengan turbulensi ini adalah internasionalisasi pendidikan tinggi. Globalisasi menjadi sesuatu yang mutlak terjadi.
Artinya, peningkatan kualitas dan kompetensi sumber daya manusia pun harus ditinggikan. Para dosen, mahasiswa, maupun lulusan yang dicetak oleh perguruan tinggi dituntut untuk dapat beradaptasi dalam menghadapi segala bentuk perubahan. Pengembangan jejaring akademik internasional juga diperkuat dengan cara melakukan kolaborasi dengan akademisi kelas dunia untuk menghasilkan temuan-temuan baru.
Riset yang bermuara pada inovasi menjadi daya ungkit perekonomian bangsa. Permasalahannya, perguruan tinggi yang seharusnya menjadi kawah candradimuka penelitian justru belum begitu tampak hasilnya. Dari sudut pandang sebagian masyarakat, pendidikan tinggi hanya dilihat sebagai sebuah jenjang untuk melanjutkan studi setelah menuntaskan bangku sekolah menengah. Hal tersebut menjadi tantangan yang dihadapi bersama saat ini, di mana pendidikan tinggi belum menjadi sebuah agenda publik masyarakat.

Jika mengacu pada Surat Edaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 17445/MPK.A/TU/2018, tema peringatan Hardiknas tahun 2018 adalah ”Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan”. Kendati demikian, Kemenristekdikti berdasarkan tantangan yang tengah dihadapi pada era disrupsi ini, secara khusus mengangkat sub tema Hardiknas tahun 2018 ”Membumikan Pendidikan Tinggi, Meninggikan Kualitas Sumber Daya Manusia. Bahkan, sebagai kontribusi nyata, pada momen Hardiknas tahun 2018 ini Kemenristekdikti juga mendukung program nasional dengan menyelenggarakan Sarasehan bertajuk ”Sumbangsih Pendidikan Tinggi untuk Wujudkan Citarum Harum” yang penyelenggaraannya dipusatkan di Kota Bandung pada tanggal 3 Mei ini. Sarasehan ini akan menjadi wadah bagi para akademisi dengan pemangku kepentingan, serta komunitas untuk duduk bersama mencari solusi guna mengurai permasalahan yang terjadi di sepanjang DAS Citarum dari hulu sampai hilir. Tema tersebut dapat kita maknai bahwa pendidikan tinggi Indonesia harus bisa menjawab problem sosial yang dewasa ini terus bertambah banyak, baik dalam jenisnya maupun substansinya.

Harapan ini dapat diwujudkan oleh para ahli di bidangnya masing-masing, yang umumnya dihasilkan oleh perguruan tinggi. Semakin banyak sumber daya manusia yang berkualitas yang dihasilkan oleh perguruan tinggi, akan semakin banyak alternatif solusi yang dapat diberikan untuk menjawab masalah di masyarakat. Hal ini sesuai dengan misi Kemenristekdikti sendiri, yaitu meningkatkan akses, relevansi, dan mutu pendidikan tinggi dalam menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Pemerintah senantiasa memperluas akses bagi lulusan sekolah menengah atas untuk memasuki pendidikan tinggi melalui pembukaan maupun peningkatan daya tampung di PTN maupun PTS. Untuk relevansi, pemerintah terus mendorong agar pengelolaan program studi diarahkan pada kebutuhan pasar. Sedangkan dalam rangka mewujudkan peningkatan mutu, Kemenristekdikti juga terus mendorong agar PTN dan PTS senantiasa mendongkrak mutu lembaga dan proses pembelajarannya. Tiga pilar ini, meliputi akses, relevansi, dan mutu, diperlukan untuk menghasilkan SDM yang berkualitas.

Upaya membumikan pendidikan tinggi ini juga selaras dengan asas-asas pendidikan tinggi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi, terutama dalam asas manfaat. Pendidikan tinggi kita harus memberi kemanfaatan bagi lingkungan sekitarnya, di samping asas-asas lainnya, seperti kebenaran ilmiah, kejujuran, keadilan, kebajikan, tanggung jawab, kebhinekaan, dan keterjangkauan. Apalagi penyelenggaraan pendidikan tinggi saat ini mengandung tiga unsur kewajiban: pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang kemudian tertuang dalam Tri Dharma Pendidikan Tinggi. Ketiga komponen tersebut harus membumi. Materi pembelajaran di ruang kelas, laboratorium, dan di ruang terbuka harus kontekstual dengan dunia nyata. Penelitian-penelitian yang dilakukan oleh dosen atau pun mahasiswa harus menjadi bagian dari upaya menyelesaikan masalah sosial. Sedangkan dimensi pengabdian kepada masyarakat menjadi media yang bersentuhan langsung dengan ikhtiar membumikan pendidikan tinggi.

Dalam rangka memberikan arah dan corak yang lebih sistematis dan terukur pada ketiga kewajiban dasar pendidikan tinggi tersebut, Kemenristekdikti telah menyediakan acuan yang tertera dalam Permenristedikti Nomor 44 Tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Dengan adanya permenristekdikti ini, kami berkeinginan bahwa pendidikan tinggi mampu menghasilkan SDM yang berkualitas sekaligus membumi di Tanah Air Indonesia.

Jika setiap perguruan tinggi kita memperhatikan dengan sungguh-sungguh Permenristedikti Nomor 44 Tahun 2015 tersebut, niscaya kita dapat meninggikan kualitas SDM Indonesia. Hal ini karena mustahil bagi sebuah perguruan tinggi untuk dapat menghasilkan SDM yang berkualitas, apabila penyelenggaraan pendidikannya tidak memenuhi standar, baik dalam standar yang terkait dengan pendidikan, penelitian, maupun pengabdian masyarakat.

Sebaliknya, perguruan tinggi yang telah memenuhi standar nasional pendidikan tinggi tersebut, sudah tentu mampu menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi begitu cepat, sebagaimana berlangsung pada era disrupsi ini. Mereka memiliki tenaga pendidik dan kependidikan yang memenuhi standar, melakukan riset-riset mutakhir yang terstandar, serta melaksanakan pengabdian masyarakat dengan standar tertentu sehingga perguruan tinggi akan terbiasa dengan berbagai tantangan.

Disamping Undang-Undang Dikti dan Permenristekdikti, kebijakan lain yang kami terapkan untuk membumikan pendidikan tinggi sekaligus meninggikan kualitas SDM Indonesia adalah membuka kerja sama dengan berbagai pihak dari luar negeri. Kehadiran perguruan tinggi dan dosen kelas dunia dengan kualifikasi dan reputasi internasional, yang didorong untuk menjadi mitra kerja sama dengan perguruan tinggi dan dosen di sini, diharapkan menjadi pemicu dan pemacu peningkatan kualitas SDM pendidikan tinggi, di samping internasionalisasi perguruan tinggi dan dosen dalam negeri.

Demikian pula skema pemberian beasiswa kepada para dosen untuk melanjutkan studi, baik di luar negeri maupun di dalam negeri, merupakan bagian dari ikhtiar membumikan pendidikan tinggi sekaligus meninggikan kualitas SDM Indonesia. Harapannya tenaga pendidik yang cakap mampu menumbuhkan iklim pembelajaran yang baik, hingga akhirnya menghasilkan lulusan yang cakap pula.

Seperti di instituasi lainnya, upaya mewujudkan misi Kemenristekdikti ini memerlukan waktu yang panjang, kerja keras, dan konsistensi. Yang jelas, kiranya kita semua sepakat bahwa bila semua PTN dan PTS memenuhi standar SNDikti, perguruan tinggi akan mampu menghasilkan lulusan yang bukan hanya menjadi pendukung (supporter) bagi suatu perubahan; melainkan juga sebagai motor penggerak (driver) untuk memfasilitasi perubahan masyarakat. Lebih dari itu, jika memungkinkan pendidikan tinggi perlu memainkan perannya sebagai pemungkin (enabler) bagi perubahan dan inovasi-inovasi sosial, sebagaimana dituntun dan dituntut dalam era disruptif ini. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, mari kita bergandengan tangan demi kejayaan Tanah Air dalam semangat Hari Pendidikan Nasional.

  • 02 Mei 2018
  • 321 Pengunjung

Lainnya

Pencarian