BEM Unwar menggelar seminar nasional bertajuk "Transformasi Generasi Muda dalam Revolusi Mental
Senin, 05 Desember 2016
BEM Unwar, Sabtu (3/12) menggelar seminar nasional bertajuk "Transformasi Generasi Muda dalam Revolusi Mental". Seminar dibuka Rektor Unwar diwakili WR III Dr. Ir. I Wayan Parwata, M.T. Seminar menampilkan pembicara Dr. Ir. Abdul Basith, M.S. (motivator trainer) dan Dr. Haswan Yunas, S.E., M.M. (Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan Kemenko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan) dan keynote speaker Wali Kota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra. Ketua Panitia I Putu Agus Berata Yasa melaporkan, seminar diikuti 400 peserta dari mahasiswa Unwar dan PT lainya di Bali serta masyarakat umum. Sementara itu, Presiden BEM Unwar I Made Mahardiana mengatakan, seminar ini untuk menggugah generasi muda Bali dalam melakukan perubahan dan revolusi mental.
Kuncinya, kata dia, adalah kita harus mau berubah. WR III Wayan Parwata mengatakan, revolusi mental jangan hanya menjadi jargon di Unwar, melainkan harus dijalani. Aplikasinya sederhana yakni menjalankan Tri Kaya Parisuda yang lebih rill diterapkan di Unwar. Sebab, komponen ini juga terkait dengan revolusi mental ke depan. Ada dua tugas pokok yang terkait dengan revolusi mental. Pertama, melaksanakan Permendikti 44 tahun 2015 yang mensyaratkan bahwa mahasiswa tak hanya belajar di kampus namun juga melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat. Dengan demikian, mindset kita hams berubah. Kedua, bagaimana mahasiswa meningkatkan kualitas penelitian dengan memenangkan dana hibah Dikti. Ada hibah PKM, bisa desa, dan lain-lain. Selain itu,
makin banyak mahasiswa Unwar meraih beasiswa di segala jenis. Dia memberi apresiasi positif atas seminar ini dengan menghadirkan pakar revolusi mental. Dia ingatkan mahasiswa untuk menjadikan seminar ini sebagai bahan penelitian. Wali Kota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra memaparkan soal generasi muda berbudaya dalam pembangunan bangsa. Dia menegaskan, berpikir kreatif menjadi kunci kemajuan bangsa. Makanya, perlu dibentuk budaya kreatif di kalangan generasi muda. Jika generasi muda menjadi agen perubahan, dia akan menjadi SDM kreatif. Kreativitas ini bisa membentuk citra dan identitas sumber daya bangsa dan inovatif serta penciptaan lain. Untuk itu, kreatiflah sejak muda. Saat ini, kehidupan kita tergantung kualitas intelektual kita. Pada 1970-an disebut era ekonomi pertanian Untuk kaya, perlu lahan luas. Negara maju pun menjajah negara lain yang memiliki lahan yang luas. Setelah itu, muncul era ekonomi industri. Di sini memerlukan lahan luas, modal besar dan mesin yang besar. Selanjutnya menuju era ekonomi informasi hingga 2010 yang menuntut komputerasisasi. Terakhir, memasuki era kreativitas dan digitalisasi mulai tahun 2010 ke atas. Di sinilah, kata dia, kesempatan bagi anak muda maju dan kaya. Dengan nilai kreativitas, anak muda mengeksplorasi intelektualnya untuk menjadi kaya di usia muda. (ad239)
Balipost, Senin 5 Desember 2016
Minggu, 31 Agustus 2025
Unwar Gelar PKKMB Reguler B, Fasilitasi Kuliah untuk Masyarakat yang Sudah Bekerja
Jumat, 10 Oktober 2025
Forum Mahasiswa Islam Unwar Gelar PKMM 2025 di Pondok Jaka Sangeh
Kamis, 16 Oktober 2025
Universitas Warmadewa Pimpin Kolaborasi Ilmiah Global Lewat Forum Internasional WUICACE 2025
Jumat, 12 September 2025