Dari Seminar Nasional di Unwar Pariwisata Bali Wajib Berbasis Masyarakat
Senin, 31 Oktober 2016
UNIVESITAS Warmadewa (Unwar) Denpasar, Jumat (28/10) kemarin menggelar seminar nasional bertajuk "Tata Kelola Lingkungan Kepariwisataan Terintegrasi Berbasis Budaya". Seminar diikuti 140 peserta dari unsur mahasiswa dan dosen Unwar, Poltek Bali, Wira Wacana Sumbawa dan Akbid Kartini Bali. Wakil Ketua Yayasan Kesejahteraan Korpri Provinsi Bali I Ketut Sugihantara memberi apresiasi atas kegiatan akademik ini untuk memberi warna pembangunan kepariwisataan Bali. Rektor Unwar Prof. Dewa Putu Widjana saat membuka seminar menekankan Unwar yang memiliki PIP bidang kepariwisataan ikut berperan memberi gagasan demi terwujudnya pariwisata Bali yang berkelanjutan. Seminar menampilkan pembicara Wabup Badung I Ketut Suiasa yang memaparkan pembangunan pariwisata Badung. Dia menegaskan pembangunan pariwisata di Badung terintegrasi budaya dan pertanian Juga berbasis ekowisata (melestarikan lingkungan) dan berbasis masyarakat, yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pembicara lain, Prof. I Ketut Suda, mengurai soal peranan lembaga adat dalam menjaga kelestarian lingkungn pariwisata. I Ketut Sudiarta (FP Unwar) memaparkan konsep ruinah desa dalam pengembangan desa wisata yang autentik, Dr. Ir. Cokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, M.Si. soal Tri Mandala, sebuah model pengembangan pariwisata budaya Bali. Juga tampil Dr. Ananthasius P. Bayuseno yang memaparkan dampak pariwisata massal. Bayuseno menegaskan, pariwisata massal di Bali yang dimulai 1990-an menyebabkan memproduksi 20 ribu meter kubik sampah tiap hari dan 75 persen tak tertangani. Terjadinya ketidakseimbangan ekosistem yang mengancam satwa dan polusi udara. Dampak pariwisata massal ini juga menyebabkan kekurangan energi dan ketersediaan air. Untuk itu dia memandang perlunya ekowisata yang berkelanjutan. Artinya, perjalanan pariwisata yang bertanggung jawab pada pelestarian lingkungan dan
peningkatan kesejahteraan masyarakat. Cok Ace menyoroti perlunya kerja sama pemerintah, masyarakat kalangan swasta untuk pengembangan pariwisata Bali berkelanjutan melalui pemberdayaan cluster wilayah mengharmoniskan kearifan lokal dan kebijakan pemerintah mampu mengantarkan Bali pada pemerataan pembangunan antar kabupaten di Bali. Konsep Tri Mandala bisa dijadikan rujukan pembangunan pariwisata Bali yang berkelanjutan. Sementara itu, I Ketut Sudiarta dari FP Unwar menekankan dari sekian banyak desa wisata, hanya sedikit yang tumbuh menjadi desa wisata yang sesungguhnya. Dalam artian, desa wisata memosisikan masyarakat sebagai bagian inti parjwisata yang menekankan keterlibatan masyarakat lokal. Desa wisata dengan model rumah desa bisa dikembangkan karena mernberikan produk wisata dan layanan autentik. Untuk mewujudkan desa wisata sebagai rumah desa yang menyediakan kepuasan pengunjung diperlukan panggalian potensi desa dan.pelestarian keunikan desa. Guru Besar Unhi Prof. I Ketut Suda mengatakan desa pakraman sebagai basis pelestarian dan mempertahankan adat Bali dan agama Hindu serta lingkungan pariwisata. Apalagi desa pakraman memiliki wewenang dan memutuskan pembangunan di wilayahnya. Masuknya ideologi kapitalisme global ke Bali menyebabkan masuknya idelogi modern atau ragam pasar ke. dalam sosiobudaya masyarakat Bali. Akibatnya, kearifan lokal desa pakraman ikut dimaknai sebagai tuntutan modernisasi yakni efektif, efisien dan praktis. (ad1924)
Minggu, 31 Agustus 2025
Unwar Gelar PKKMB Reguler B, Fasilitasi Kuliah untuk Masyarakat yang Sudah Bekerja
Jumat, 10 Oktober 2025
Forum Mahasiswa Islam Unwar Gelar PKMM 2025 di Pondok Jaka Sangeh
Kamis, 16 Oktober 2025
Universitas Warmadewa Pimpin Kolaborasi Ilmiah Global Lewat Forum Internasional WUICACE 2025
Jumat, 12 September 2025