Dirjen PUPR di Seminar FT Unwar Kawasan Hulu Bali Pantas Dapat Kontribusi dari Pariwisata
Selasa, 25 Oktober 2016
SERANGKAIAN Dies Natalis ke-32 Unwar dan HUT ke-32 Fakultas Teknik Unwar, Sabtu (8/10), FT Unwar menggelar seminar nasional bertajuk Infrastruktur Bangunan Konstruksi Berbasis Lingkungan Kepariwisataan Lokal". Seminar dibuka Rekor Unwar Prof. Dewa Putu Widjana dengan keynote speaker Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Ir. Imam Santoso, M.Sc. Seminar diikuti 200 peserta dari berbagai kalangan. Menurut Ketua Panitia Ir. Putu Gede Suranata, M.T. seminar ini merupakan kelanjutan dari seminar 2014 tentang konsep dan implementasi bangunan insfrastruktur konstruksi hijau untuk mewujudkan kota yang hijau. Saat ini, seminar disesuaikan dengan Pola Ilmiah Pokok (PIP) Unwar dalam lingkungan kepariwisataan berkearifan lokal Tujuannya untuk mendapatkan konsep sekaligus implementasi perencanaan dan pembangunan infrastruktur yang berbasis lingkungan kepariwisataan berkearifan lokal. Seminar sehari menampilkan pembicara utama Popo Danes dan Ahmad Rifai dari UGM. Di samping itu, tampil 11 panelis, lima dari arsitektur soal bangunan dan enam dari teknik sipil berkaitan dengan konstruksi. Rektor Unwar Prof. Dewa Putu Widjana mengungkapkan, seminar ini menjadi panting untuk membangun Bali berlandaskan lingkungan.
Apalagi, pembangunan Bali dewasa ini perlu ditata. Untuk itu, diperlukan pemahaman bagi mahasiswa, dosen dan kalangan intelektual Unwar memahamai betapa pentingnya Bali dibangun berlandaskan lingkungan kepariwisataan. Dia mencontohkan soal ketersediaan air baku Bali yang makin menipis. Hal itu dibenarkan Dirjen Sumber Daya Air Imam Santoso. Dikatakan, Bali sebagai destinasi wisata utama Indonesia dan dunia tak boleh sampai kekurangan persediaan air baku, baik untuk masyarakat maupun industri pariwisata. Untuk itu, katanya, kini Kementerian PUPR sedang membangun sejumlah embung dan bendungan di Bali. Di antaranya di Titab dan Belok Sidan, Gianyar. Penyediaan air baku ini diutamakan untuk masyarakat dan kelebihannya untuk industri pariwisata.
Dirjen juga setuju Bali dibangun sesuai dengan daya dukung Bali. Untuk itu, dia setuju kawasan hulu Bali yang berfungsi sebagai daerah penyangga air harus mendapat kontribusi dari dunia pariwisata. Caranya bisa dibuatkan dalam bentuk perda yang mengatur kewajiban dunia pariwisata untuk melestarikan daerah hulu. Ketua Yayasan Kesejahteraan Korpri Provinsi Bali Dr. A.A. Gede Oka Wisnurnurti, M.Si. menambahkan, diperlukan komitmen bersama dalam membangun Bali secara berkelanjutan. Jangan sampai Bali yang dikenal memiliki konsep Tri Hita Karana namun kalah dalam implementasinya dibandingkan di AS. Pembicara Popo Danes di acara itu banyak menyoroti pembangunan pariwisata yang mencaplok lahan basah dan sawah. Dia tak setuju. kebijakan ini terus dibiarkan, sebab akan merusak Bali tanpa dilandasi lingkungan. Sementara Ahmad Rifa'i memaparkan perlunya sinergisitas pariwisata Bali dengan lingkungan' sosial dan penataan fisiknya. Dengan demikian, Bali sebagai ikon pariwisata dunia tak boleh dicemari oleh pembangunan fisik yang tak sesuai dengan kearifan lokal Bali. (ad647)
Bali Post Senin Pon, 10 Oktober 2016
Minggu, 31 Agustus 2025
Unwar Gelar PKKMB Reguler B, Fasilitasi Kuliah untuk Masyarakat yang Sudah Bekerja
Jumat, 10 Oktober 2025
Forum Mahasiswa Islam Unwar Gelar PKMM 2025 di Pondok Jaka Sangeh
Kamis, 16 Oktober 2025
Universitas Warmadewa Pimpin Kolaborasi Ilmiah Global Lewat Forum Internasional WUICACE 2025
Jumat, 12 September 2025