Seminar Nasional "Peningkatan Jabatan Akademik ke Guru Besar di Perguruan Tinggi"
Jumat, 21 September 2018
Universitas Warmadewa (Unwar) dibawah naungan Yayasan Kesejahteraan Korpri Propinsi Bali menggelar Seminar Nasional "Peningkatan Jabatan Akademik ke Guru Besar di Perguruan Tinggi" di Ruang Sidang Sri Kesari Mandapa Kampus Unwar, Kamis 20 September 2018. Seminar ini menghadirkan 2 narasumber, yaitu Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc.,P.hD., yang merupakan Dirjen Sumber Daya Manusia dan IPTEK Kemenristek Dikti dan Ir. Panji Pujasakti, MT.
Seminar Nasional dibuka oleh Kepala L2DIKTI Wilayah VIII, Prof. Dasi Astawa, yang dihadiri oleh Ketua Yayasan Kesejahteraan Propinsi Bali, Dr. Drs. A.A. Gede Oka Wisnumurti, M.Si., beserta jajaran, Rektor Unwar Prof. dr. I Dewa Putu Widjana, DAP&E., Sp.ParK., beserta Wakil Rektor Unwar, para dekan dan dosen dilingkungan Unwar, serta para Doktor PTS dilingkungan L2DIKTI Wilayah VIII.
Rektor Unwar Prof.dr. I Dewa Putu Widjana, DAP&E., SP. Park., di sela seminar mengatakan, tahun 2019, ia memasang target mengukuhkan setidaknya satu atau dua guru besar di lingkungan Unwar. Ia menilai, materi yang dipaparkan Prof. Ali Ghufron dan Ir. Panji Pujasajti, MT., mampu menjawab persoalan atau kendala yang dihadapi para doktor untuk melangkah ke guru besar. "Terakhir kita mengukuhkan guru besar empat tahun lalu. Kita tidak boleh tidur, harus digenjot lagi. Tahun depan harus ada guru besar yang kita kukuhkan, paling tidak dua atau satu orang," kata Rektor Widjana. Diakui Prof. Widjana, setelah mengamati proses seminar, ratusan kandidat guru besar dari PTS se-Bali memiliki kendala yang variatif, dan yang paling krusial adalah penelitan dan publikasi jurnal internasional. Sebagai motivasi, ia mengingatkan, para dosen tetap memiliki ambisi meraih posisi jabatan akademik tertinggi, yakni profesor. "Kalau orang sudah memutuskan mengabdi sebagai dosen, itu harus punya obsesi jadi guru besar. Kalau tidak mending jangan jadi dosen," sentilnya.
Kendala penelitian dan publikasi pada jurnal bereputasi juga diakui pamateri Prof. Ali Gufron. Namun ia meyakinkan, saat ini proses dari doktor menuju guru besar lebih bagus dan transparan. "Asalkan seluruh persyaratan terpenuhi, kami jamin kuran dari dua bulan, sudah beres," ungkapnya. Untuk itu, usai seminar, ia mengimbau seluruh doktor maupun dosen (yang belum doktor) tapi punya karya ilmiah yang bagus, agar segera mengajukan diri. Prof. Ali menambahkan, kegiatan ini sangat luar biasa yang merupakan wujud nyata Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta (BP-PTSI) membangun kualitas PT di seluruh Tanah Air. Dia mengaku optimis, setelah mendapatkan pencerahan, para kandidat guru besar termotivasi, segera mengajukan persyaratan.
Ketua Wilayah Asosiasi (BP PTSI) Bali sekaligus Ketua Yayasan Kesejahteraan Korpri Propinsi Bali (YKKPB) Dr. Drs. A. A. Gede Oka Wisnumurti, M.Si., mengungkapkan, PTS se-Bali di bawah naungan BP PTSI saat ini memiliki lebih dari 300 doktor. Sebagai tindaklanjut seminar, pihaknya segera melakukan "coaching clinic" tentang cara membuat jurnal yang bisa tembus di jurnal internasional oleh tim dari Dikti. "Ayo jangan lama-lama jadi doktor. Segera lengkapi persyaratannya. Bagaimana kita berkompetisi jika SDM kita belum memenuhi salah satu ketentuan, salah satunya guru besar," kata beliau. Selain berdampak pada personal, menurut Ketua Yayasan, guru besar sangat berpengaruh pada reputasi institusi. Ia mengaku sangat nengapresiasi antusiasme peserta dari PTS se-Bali yang terlihat serius mengikuti jalannya seminar dan mencari solusi atas persoalan yang dihadapi. "Tentu pertama yang kita tutupi adalah persoalan yang paling krusial," ujarnya.
Sementara itu Ketua Umum Asosiasi Badan Penyelenggaraan Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (BP PTSI)
Prof. Dr. Thomas Suyatno menyebut, seminar nasional itu merupakan forum besar karena mandatangkan para doktor dari seluruh PTS se-Bali. Permasalahan kekurangan guru besar di masing-masing PT, kata dia, tidak hanya terjadi di Kopertis Wilayah VIII, namun di wilayah lain. Karenanya, pihaknya terus melakukan seminar serupa keliling wilayah Indonesia. Dalam waktu dekat, kandidat guru besar se- Jawa Tengah dan Jawa Timur akan disasar. "Di mana-mana saya selalu katakan, pasang target, setiap prodi itu minimal 10 persen dari total dosen tetap harus bergelar guru besar," pungkasnya.