Universitas Warmadewa

Jl. Terompong No.24, Sumerta Kelod, Kec. Denpasar Tim., Kota Denpasar, Bali 80239

Call:0361-223858

[email protected]

Universitas Warmadewa dan WRI Indonesia Gelar Forum “Bali Bicara Pejalan Kaki”

Jumat, 13 Maret 2026

Card image

Denpasar – warmadewa.ac.id

Pusat-Pusat Studi Universitas Warmadewa bekerja sama dengan World Resources Institute (WRI) Indonesia menyelenggarakan kegiatan Jumpa Ngopi #16 di Kopi Paste FTP Unwar, Jumat (13/3/2026). Jumpa Ngopi kali ini menghadirkan forum dialog publik bertajuk “Bali Bicara Pejalan Kaki” yang menjadi ruang diskusi terbuka antara akademisi, komunitas, dan profesional untuk membahas isu mobilitas berkelanjutan serta kondisi fasilitas pejalan kaki di Bali.

Forum ini menghadirkan narasumber antara lain Ardzuna Sinaga (Director of Urban Design URBAN+), I Nyoman Gede Maha Putra (Co-Chair International Advisor Warmadewa Research Centre), serta Fairuzia Rahman (Urban & Transport Analyst WRI Indonesia). Diskusi dipandu oleh moderator Aji Duranegara, Peneliti Pusat-Pusat Studi Universitas Warmadewa.

Meski Bali dikenal lekat dengan tradisi berjalan kaki, aktivitas tersebut masih menghadapi berbagai tantangan di ruang publik. Trotoar di sejumlah wilayah kerap terputus, tidak ramah bagi pejalan kaki, bahkan beralih fungsi menjadi jalur sepeda motor.

“Hak dasar seperti aksesibilitas dan kenyamanan pejalan kaki selalu dipinggirkan, padahal kami juga pengguna jalan,” ujar salah satu partisipan dalam Forum Jumpa Ngopi #16: Bali Bicara Pejalan Kaki.

Selain dihadiri kalangan akademisi, forum ini juga melibatkan berbagai komunitas seperti Komunitas Pejalan Kaki Bali (Kopeka), Denpasar Bersepeda, serta Koalisi Bali Emisi Nol Bersih. Antusiasme peserta menunjukkan tingginya perhatian terhadap isu ruang publik yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Dalam paparannya, Fairuzia Rahman menyoroti pentingnya pengembangan Non-Motorized Transport (NMT) atau transportasi tidak bermotor sebagai bagian dari upaya mengurangi emisi dan meningkatkan kualitas ruang kota.

“Kita perlu merebut kembali ruang pejalan kaki dari dominasi kendaraan pribadi. Melalui perencanaan yang partisipatif, kami berharap Kawasan Rendah Emisi Sanur sebagai bagian dari Bali Low Emission Zone Initiative (BLEZI) dapat menjadi pembuktian konsep desain kota yang berorientasi pada manusia atau human-centered design,” jelasnya.

Melalui diskusi interaktif yang menggabungkan data, pengalaman empiris, dan refleksi nilai-nilai lokal, forum ini diharapkan mampu menghasilkan pemahaman bersama serta rekomendasi konkret dalam mewujudkan sistem mobilitas yang lebih berkelanjutan, sekaligus mendukung komitmen Bali menuju emisi nol bersih.

Diskusi kemudian dilanjutkan oleh I Nyoman Gede Maha Putra yang mengangkat perspektif lokal Bali, khususnya dalam konteks urbanisasi dan perkembangan pariwisata yang berdampak pada infrastruktur pejalan kaki.

Ia menuturkan bahwa pembangunan ruang kota kerap menimbulkan ketimpangan sosial. “Ada pandangan neoliberalisme yang terjadi saat kita melihat siapa yang seharusnya menikmati ruang kota. Ketika saya berada di Ubud, saya melihat seorang nenek dan cucunya kesulitan menyeberang karena sulitnya berjalan dan tidak tersedianya bemo. Pembangunan jalan ini memunculkan ketimpangan sosial, terutama bagi masyarakat yang seharusnya menikmati lingkungan tempat tinggal mereka,” ujarnya.

Sementara itu, Ardzuna Sinaga membahas tren pembangunan infrastruktur pejalan kaki di berbagai kota dunia. Ia mencontohkan praktik baik di Bangkok, Hong Kong, dan Seoul, sekaligus menyoroti tantangan yang masih dihadapi kota-kota di Indonesia seperti Bandung dan Jakarta. Ia juga menilai kawasan wisata di Bali seperti Sanur dan Ubud memiliki potensi besar untuk pengembangan sistem pedestrian yang lebih baik.

“Kerangka pedestrian terintegrasi memiliki potensi untuk membuka ruang kreatif, membangun fleksibilitas untuk mengakomodasi kebutuhan tersembunyi, hingga menjadi panggung kewirausahaan untuk publik,” jelasnya.